Liburan kali ini aku berkesempatan untuk berlibur kedaerah padalaman Kalimantan Tengah. Tepatnya di Desa Kalumpang,kecamatan Mantangai.kabupaten Kuala Kapuas. Well, pada hari jumat 10 juli 2009 di desa Kaladan akan diadakan ritual adat-istiadat budaya Kalimantan Tengah yang disebut “Tiwah”. Tiwah adalah ritual mengantar roh-roh orang yang telah mati masuk kedalam sorga. Sebelum acara tersebut dimulai,keluarga-keluarga dari orang yang telah meninggal tersebut mendaftarkan diri kepada ketua pelaksana (Tokoh adat/Basir) yang disertakan dengan memenuhi berbagai syarat-syarat. Misalnya: pisau,pakaian,peralatan makan,dsb. Rumah tempat penyimpanan tulang di buat khusus yang di namakan “Balai”. 7 hari kemudian, balai tersebut dipalas/membersihkan (menyaki) dengan darah binatang seperti darah ayam ataupun darah babi. Sementara itu keluarga yang mengikuti acara tersebut, membongkar kuburan dengan tujuan mengambil tulang-tulang. Tulang tersebut dibersihkan dengan sabun dan air kelapa. Tulang yang sudah bersih, dimasukkan kedalam gong yang beralaskan kain. 7 hari selanjutnya, tulang tersebut dimasukkan ke rumah balai. 7 hari selanjutnya lagi tulang –tulang tersebut di keluarkan dan dibawa menuju rumah penyimpanan tulang terakhir yang dinamakan Sandung/Tambak. Untuk memasukkan tulang tersebut kedalam Sandung, digunakan ritual Nyangkean. Sebelum tulang masuk kedalam Sandung, orang–orang terlebih dahulu menombak kerbau yang sengaja diikat pada patung yang disebut “Sapundu”. Setelah tulang masuk kedalam Sandung, kelurga dari orang mati tersebut melakukan acara sobek-menyobek baju,menyobek uang,dan saling memakai bedak. Acara ini disebut permainan Liau yang menandakan roh-roh tersebut sudah masuk kedalam “Lewu Tatau” (Surga). Akhir acara, tokoh adat melakukan “Balaku Untung” atau membersihkan kampung itu dari pengaruh kuasa jahat.
Juli 15, 2009
Posted by Murraya Putri Palupi |
Uncategorized | Kaladan, Kuala Kapuas, Nyangkean, Ritual Tiwah, sapundu |
3 Komentar
Ini adalah pengalaman pertama ku mengikuti ajang Festival Budaya yang diselenggarakan tanggal 18 April 2009 di Pasar Panas kemarin. Dalam Festival ini aku ikut ambil bagian yaitu menjadi salah satu kandidat/utusan dari Kecamatan Dusun Tengah untuk mengikuti pemilihan Duta Pariwisata Barito Timur. Bersama rekan ku Bayu Pebriadi, kami berdua berusaha untuk menjadi pemenang. Menggunakan pakaian adat khas Kalimantan Tengah berwarna merah marun dan semua accessoriesnya,,kami melangkah pasti menuju panggung dan mulai melaksanakan kewajiban kami sebagai seorang peserta. Pengumuman pun telah tiba,,tapi mungkin belum saatnya kami menjadi juara kali yaa..??!. Makanya kami cuma bisa meraih juara 3. juara 1 diraih oleh Mery Kartini N. dan Tutut Satya Jaksa utusan dari kecamatan Paju Epat,juara 2 diraih oleh Putri Wunge N.dan Yonas T. utusan dari Kecamatan Dusun Timur (Tamiang Layang),dan juara 3nya adalah aku dan rekan ku Bayu Pebriadi. Kecewa sich sudah pasti aku rasakan,, Tapi aku tetap bersyukur walaupun cuma mendapatkan juara 3. pengalaman ini tak kan pernah terlupakan. Dan mudah-mudahan tahun depan aku masih punya kesempatan untuk bersaing lagi di Festival ini. Dalam Festival ini tidak hanya dilaksanakan pemilihan Duta Pariwisata saja. Tapi juga di laksanakan lomba tari-tarian daerah khas Kal-Teng khususnya dari daerah Barito Timur yang terdiri dari tarian pedalaman dan tarian garapan. Selain itu juga ada permainan rakyat yang mana memperlombakan tentang permainan-permainan rakyat khas Kalimantan Tengah (Suku Dayak). 
Juli 7, 2009
Posted by Murraya Putri Palupi |
Uncategorized | Barito timur, Duta Pariwisata Barito Timur, Festival Budaya, Kalimantan Tengah, Pasar Panas, Suku Dayak, Tamiang Layang, Tari-Tarian Khas Kal-Teng. Permainan Rakyat. |
3 Komentar
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Juli 6, 2009
Posted by Murraya Putri Palupi |
Uncategorized |
Tinggalkan sebuah Komentar